Oke, jadi minggu ini jagat tech dihebohkan sama keputusan Apple yang bikin banyak orang garuk-garuk kepala. Apple nyopot Telegram dari App Store selama kurang lebih satu jam, dan langsung dijADI-in berita besar banget. Kenapa? Karena Telegram itu platform komunikasi buat lebih dari 1 miliar pengguna globally, dan banyak yang pake buat bertahan di negara-negara yang menerapkan sensor internet.
Kenapa Telegram Ditendang?
Jadi ceritanya, Apple udah cabut Telegram dari App Store karena ketemu Child Sexual Abuse Material (CSAM) di platform tersebut. Setelah konten itu dihapus, Telegram langsung dikembalikan. simple kan? Nggak juga sih, karena ini bukan pertama kalinya Apple ngelakuin ini - mereka juga pernah nyopot Telegram di 2018 karena alasan yang sama.
Tapi yang bikin interesting adalah... X (dulu Twitter) yang dimiliki Elon Musk ini, tetap survive di App Store meskipun AI chatbot-nya, Grok, pada 2025 bikin heboh karena bisa generate deepfake yang "menghilangkan pakaian" (undressing) orang dewasa bahkan anak-anak. Yeah, minors. Konten-konten nonconsensual deepfake itu menyebar kemana-mana, pemerintah UK nggak cuma nyinyir tapi langsung gerak, bahkan EU langsung buka investigation.
Double Standard Much?
Nah ini bagian yang bikin netizen naik pitam. Advocates dan groups minta Apple serta Google buat cabut X dari app stores mereka, tapi Apple seolah nggak dengar apa-apa. Sebagai gantinya, Apple "komunikasi di belakang layar" sama tim X dan Grok, minta mereka "create a plan to improve content moderation." Eventually Apple bilang X "substantially resolved its violations" tapi tetap dibilangin harus ada perubahan lagi atau bisa dicabut.
Seriously, bro? Satu instance illegal content di Telegram langsung banned, tapi X yang udah diwarnai skandal deepfake anak-anak dari AI-nya sendiri... still standing di App Store? That's some next-level different treatment.
it's All About Politics
Menurut Anupam Chander, professor hukum dan teknologi dari Georgetown University, jawabannya quite political actually. "X has a far stronger base of political support in the United States than Telegram does,"ujarnya ke The Verge. Ini artinya, removing X dari App Store bakaltrigger "firestorm of political response against Apple" - something yang nggak bakal mereka terima dari nge-take down Telegram.
Ditambah lagi, Elon Musk itu bukan orang sembarangan. Waktu dia akuisisi Twitter di 2022, dia pernah publicly complain kalau Apple mau restrict app-nya. Endingnya? Tim Cook kasih tur ke Musk di campus Apple dan... resolved. Kayak nggak pernah terjadi apa-apa.
Meanwhile, Pavel Durov - CEO Telegram yang lahir di Russia tapi tinggal di Dubai - klaim kalau Apple nyopot Telegram sebelum bahkan kontak perusahaannya dulu. Jadi nggak ada negosiasi, nggak ada "create a plan" kayak yang X dapet. Langsung tendang.
Aftermath: Telegram Ngotot Improve
Post-incident, Telegram sekarang jadi lebih strict soal content moderation. Mereka ubah kebijakan private message moderation, discontinue fitur yang "misused" (kayak fitur untuk menemukan dan message orang di sekitar), dan comply sama court orders yang minta data pengguna yang dicurigai criminal activity. Mereka juga improve detection sistem buat illegal material. Meanwhile Durov sendiri lagi dalam investigation di France atas tuduhan "complicity" terkait illegal transactions dan CSAM, dan bulan lalu Russia nge-charge dia dengan facilitating terrorism.
Geek Opinion
Ini sih jelas-jelas red flag besar buat Apple soal konsistensi content moderation policy mereka. Kalau lo tanya gue - yang jadi masalah bukan cuma soal Telegram atau X doang, tapi gimana Apple treat companies differently based on political power dan influence mereka.
Teknologi seharusnya neutral, tapi nggak bisa di deny bahwa decision-making di level corporate ini heavily dipengaruhi sama siapa yang punya bargaining power terbesar. Telegram? Dipandang sebagai nuisance politically, jadi relatively "easy target." X? Milik orang terkaya di dunia yang punya akses langsung ke Oval Office dan bisa bikin drama besar di Twitter sendiri kalau dikecilkan.
Jadi next time ada yang bilang "Apple itu fair dalam moderation"... maybe think again ya gaes. 🚩



