Lo pernah denger istilah AI agents? Kalau lo anak tech, pasti udah nggak asing lagi. Tapi kalau lo orang biasa yang cuma pake HP buat scroll TikTok dan chat sama temen? Kemungkinan besar lo belum pernah nyentuh AI agents seumur hidup lo.
Nah, Josh Miller, CEO The Browser Company, baru aja bilang ini dengan sangat blak-blakan di X (Twitter). Dia nulis: "Hot take … isn't it kinda crazy that nobody is really using AI Agents? Theoretically, the tech is ready for AI agents to totally transform how we work and live our lives … but alas the general public dgaf." Postingannya viral parah dan resonate sama banyak orang di Silicon Valley.
Angka-Angka yang Bikin Malu
Mari kita lihat data sebenarnya. OpenAI bilang kalau AI agents mereka kayak Codex dan ChatGPT Work punya sekitar 10 juta weekly users. sounds like a lot, right? Tapi coba bandingin sama ChatGPT yang punya sekitar 1 miliar monthly active users. Itu artinya AI agents cuma kayak error pembulatan doang ("rounding error").
Miller ngomong dalam sebuah interview kalau dia "belum pernah denger satu orang pun di luar komunitas tech ngomongin AI agent yang mereka pake." Ini cukup ironis sih, karena industri udah gastar resources gede banget buat研发 AI agents, tapi orang biasa tetep aja nggak tertarik.
Akar Permasalahannya
Miller punya argumen yang pretty interesting. Dia bilang:
"No one wants AI agents, because AI agents aren't a thing. It is an invented frame made up by our industry to collectively refer to something."
Intinya, orang nggak butuh tahu kalau ada "AI agent" di balik layar. Yang mereka butuh adalah produk yang bikin hidup lebih gampang—tanpa harus ngerti teknis di belakangnya.
Contoh konkret dari produk Miller sendiri: The Browser Company punya browser AI-powered bernama Dia. Fitur paling populer mereka? Personalized morning briefing. Lo buka laptop, terus lo langsung dapet:
- Greeting yang personal
- To-do list dari calendar dan email lo
- Fun facts atau artwork buat bikin mood lo enak
Technically, ini semua possible karena AI agent. Tapi user sama sekali nggak perlu tau itu. Mereka cuma ngerasa: "Wah, asik nih, laptop gue langsung ngasih info yang gue butuhin."
Groupthink di Silicon Valley
Miller juga nyorot masalah lain: groupthink. Dia cerita waktu dia lagi proses akuisisi The Browser Company oleh Atlassian ($610 juta deal), dia ketemu banyak leader di AI labs teratas.
"It was wild to me. I think every single lab but one mentioned the movie Her as the way they articulated their vision."
Movie Her (2013) yang dibintangi Joaquin Phoenix itu kan tentang cinta sama AI voice assistant. Dan ternyata almost semua AI lab referensi film yang sama buat vision mereka. Miller ngerasa ini problematic karena nggak ada diversity of opinion—semua orang punya visi yang sama dan nggak mau keluar dari box.
Geek Opinion
Sebagai content creator yang daily ngikutin perkembangan AI, gue harus bilang Miller kena banget di sini. Tech companies udah bikin AI agents yang capability-nya mind-blowing—bisa browsing, write code, automate tasks—but把它们包装成产品的时候完全失败 ("failed to package them as products").
Lo bisa punya LLM yang super advanced, tapi kalau user experience-nya ribet dan nggak intuitive, ya orang akan milih yang lebih simpel. ChatGPT menang bukan karena teknologinya paling oke, tapi karena anybody bisa pake it without reading a manual.
Miller's message is clear: stop being obsessed dengan how impressive teknologi lo bisa melakukan, dan mulai mikirin what problems lo mau solve buat user lo yang actually nyasar ke dunia nyata, bukan cuma ke tech Twitter.
"Let's not just accept this narrative of AI agents and actually question what are good products and tools that are joyful, useful, and approachable," kata Miller.
So, siapa yang mau bikin ChatGPT moment untuk AI agents? Karena saat ini, kita masih jauh dari situ.



