Lo tau nggak sih, sekarang Premier League lagi berada dalam fase yang cukup paradox banget? Di satu sisi, klub-klub mereka spending uang gede banget buat gelandang. Enzo Fernández aja ditebus Manchester City dari Chelsea dengan harga £125 juta — rekor klub! Elliot Anderson dari Nottingham Forest? £116 juta. Sandro Tonali ke Tottenham? £92,5 juta. Mateus Fernandes? £85 juta. Bruno Guimarães ke Arsenal? £75 juta.
Tapi di sisi lain, kualitas gelandang-gelandang ini... ya meh banget.
Paradox: Mahal Tapi Mediocre?
Mari kita ngomong brutal. Kalau lo kumpulin daftar gelandang terbaik dunia sekarang, berapa banyak yang main di Premier League?
Hampir tidak ada.
Vitinha dan João Neves? Di Paris Saint-Germain. Jude Bellingham? Real Madrid. Pedri dan Rodri? Barcelona. Joshua Kimmich? Bayern Munich.
Premier League yang notabene liga terkaya dan paling glamorous di dunia ini justru missing generasigelandang berkualitas tinggi. Ini bukan sekadar anomali — ini udah jadi bug yang makinparah.
Bukti Nyata: Guéhi, Center-Back yang Jadi Gelandang
Yang bikin on point banget analisis dari Jonathan Liew di The Guardian adalah soal Marc Guéhi. Esteh, Guéhi itu center-back — defender — tapi started musim ini di ** midfield Manchester City**. Ahead of Nico González, Matheus Nunes, dan Kovacic. Artinya? Gelandang-gelandang mahal yang udah direkrut masih belum cukup trustable buat starting XI.
Enzo Maresca sendiri bilang dia butuh gelandang yang "strong" — artinya kuat secara fisik, jago duel, jago press. Bukan yang skill-nya oke tapi body-nya loyo.
Ini nunjukin bahwa Premier League udah bergeser jadi liga yang lebih menghargai atletisitas daripada kreativitas. Szoboszlai di Liverpool lebih dihargai kemampuannya cover grass daripada kemampuan dia bikin play. Training akademi juga udah mulai neglect skill teknis dan lebih kejar jadi "800-meter runners".
Kenapa Bisa Begini?
Ada beberapa alasan:
-
The Barclays Tax — Premier League premium itu nyata. Klub-klub lebih suka bayar mahal buat pemain yang udah proven di liga ini karena risikonya lebih kecil. Kalau gagal, ya minimal bukan salah recruitment team.
-
Risk Aversion — Para executive lebih aman kalau beli nama besar yang udah dikenal. Kalau Pepe £72 juta gagal, itu salah Arsenal. Kalau Grealish £100 juta gagal, somehow itu salah Grealish.
-
Market as Feedback Loop — Chelsea beli Garnacho, dia underperform, terus dijual ke Villa dengan small profit. Sistem kayak gini nggak memberikan disincentive buat terus overspending.
Hasilnya? Liga yang seharusnya jadi showcase terbaik dunia justru jadi transfer show dengan 380 pertandingan yang kadang terasa cuma inconveniently attached.
What's Next?
Apakah ini musim dimana kreativitas dan craft finally make their comeback? World Cup fatigue mulai terasa, main high-energy pressing di 4-5 kompetisi akan jadi impossible.
Tapi kalau Guéhi — yang dasarnya center-back — akhirnnya dijual dengan harga £150 juta di jendela transfer berikutnya, kita semua tau jawabannya.
Premier League mau jadi yang tercepat dan paling furious, atau yang terbaik dan paling indah?
For now, seems like the former. 💀



