Jadi gini gaes, US Open 2026 emang lagi jadi sorotan—tapi bukan karena tenaknya. Billie Jean King National Tennis Center di Flushing Meadows jadi Tempat yang bikin banyak orang rese, dan kali ini bukan soal harga cocktail yang bikin kantong nangis.
Influencer vs Tenis: Battle di Lapangan
Perseteruan terbaru terjadi pas seorang "creator" nekat filming dengan ring light-nya di tengah match Naomi Osaka di babak pertama. Alhasil, wasit harus stop match buat ngurusin situasi yang awkward banget ini. Belum selesai masalah itu, sekelompok TikTokers juga viral gegara dancing di balkon stadium pas lagi ada pertandingan—siap-siap aja jadi meme baru di internet.
Pemain-pemain professional emang udah mulai speak up. Adrian Mannarino, salah satu pemain yang udah lama nyambung di tour, bilang kalo suasananya udah "become a bit of a zoo." Ini bukan hyperbole, bro—penonton sekarang lebih sibuk filming themselves daripada nontonin bola tenis yang lagi melejit di lapangan.
Weed smell? Acceptable in NYC
Tapi influencer bukan satu-satunya masalah. Aryna Sabalenka harus pause match-nya saat lawan Kamilla Rakhimova karena bau weed yang nempel di court. Dia langsung komplain ke wasit, dan situasi ini jadi viral.
Penulis Aaron Timms dari The Guardian nge-hook masalah ini dengan sudut yang menarik: ya jelas baunya ada, New York emang udah legalisasi ganja. "Part of making a substance legal is that the odor of that substance is also legal," tulisnya. Jadi mau ngapain? Ini udah bagian dari kehidupan di NYC.
Tennis culture vs Real world
Ini dia yang paling penting buat dipahami: US Open itu adalah cerminan dari masyarakat kita. Screen-time yang udah 24/7, brand activation di mana-mana, dan commercial influence yang dimana-mana bikin venue tennis yang seharusnya "elite" jadi kayak pasar malam yang fancy.
USTA sendiri emang pihak yang paling tidak bisa protes. Mereka sendiri yang buka pintu lebar-lebar buat brand-brand besar masuk, dari yogurt sampe mobil mewah seharga $100.000. Jadi kalau ngomong soal influencer yang bikin ribut, ya sebenarnya itu juga buah dari strategi commercial mereka sendiri.
Di luar venue, Flushing Meadows Corona Park malah punya vibes yang jauh lebih asik. Keluarga-keluarga Hispanik main football, volleyball, dan BBQ-an bareng. Makanan di park vendor? Cuma $6 buat giant skewer chicken giblets sama roasted potatoes. Bandingin sama $38 French dip sandwich di dalam venue—worth it mana?
So what's the solution?
Naomi Osaka sendiri bilang kalau pertumbuhan sport emang butuh more fans, tapi ya aturan etika harus ditegetin bareng. Tapi jujur, dari mana mau ngaturin kalau criteria masuk US Open cuma satu: bisa bayar tiket.
Masalahnya? Masyarakat sekarang emang udah kayak gini—dancing TikTok buffoons, orang yang selfie di tengah aksi, dan crowd yang lebih interested sama AI daripada nonton langsung. US Open bakal terus mencerminkan cultural moment kita yang "profoundly stupid and ugly" sampe kita secara kolektif decide buat reject attention economy dan embrace real human connection.
Until then? Gas terus nonton US Open-nya—tap out dari gangguan, enjoy the tennis, dan mungkin siapin earplug.



